Home Geografi Penduduk Gereja Lokal
28-06-2017   |   Contact Us  |   Forum  |   Make it Homepage  |  
Periode Sejarah
Jaman Prasejarah
Jaman Perunggu
Jaman Besi
Jaman Persia
Jaman Helenis
Jaman Romawi
Jaman Byzantin
Jaman Arab
Jaman Pejuang Salib
Jaman Mamluk
Jaman Turki
Mandat Inggris
Negara Israel

 

 

Tanah Suci merupakan sebuah lintasan sempit yang terletak di antara benua Eropa dan Afrika, di antara dua kerajaan adidaya yakni Kerajaan Mesir yang terletak di delta Sungai Nil di Selatan dan Kerajaan Mesopotamia di delta antara Sungai Tigris dan Efrat di Utara. Terletak di rute utama perdagangan dan komersial, Tanah Suci menjadi sebuah medan pertempuran antara banyak angkatan perang.

 

Tanah ini dianggap suci oleh tiga agama monoteis besar di dunia: Yahudi, Kristen, dan Islam. Bagi umat Yahudi Tanah Suci adalah Tanah Terjanji tempat dahulu terdapat Bait Allah. Bagi umat Kristen adalah tempat Yesus dilahirkan, berkarya, wafat, bangkit dan naik ke surga. Bagi umat Islam merupakan tempat di mana Nabi Muhammad melakukan perjalanan naik ke surga dan menjadi kiblat sembahyang sebelum diganti dengan Mekkah.

 

 

 

Jaman Prasejarah I (400000-4500 SM)

 

Pada jaman ini Tanah Suci beriklim hangat dan lembab dan pemandangan alam berbeda dengan dewasa ini karena mendapat curah hujan yang lebih tinggi. Manusia pada masa itu tinggal di alam terbuka di tepi sungai-sungai dan danau-danau. Mereka membuat dari batu perkakas utama mereka untuk berburu dan mengumpulkan makanan sedangkan api baru dipakai pertama kali sekitar 200000 tahun lalu.

 

Sekitar Tahun 100000 SM manusia mulai tinggal di gua-gua tetapi masih hidup dari berburu dan mengumpulkan makanan. Perubahan besar terjadi antara tahun 10000 dan 8000 SM ketika manusia beralih menjadi penghasil makanan, mulai dengan cara menjinakkan hewan dan bercocok tanam, berladang dan menggembalakan domba. Peralatan yang terbuat dari tanah liat menggantikan yang dari batu.

 

Secara bertahap gaya hidup manusia berubah dari pola hidup berpindah-pindah ke pola bercocok-tanam yang berarti pula meninggalkan tempat tinggal berupa tenda-tenda dan mulai tinggal di desa-desa. Mereka juga membuat peralatan dari tembikar sebagai ganti yang terbuat dari batu.

 

 

Jaman Perunggu (4500-1200 SM)

 

Perunggu terbuat dari tembaga dicampur dengan karbon. Penghasilan utama pada jaman ini berasal dari pertanian dan perdagangan. Desa-desa yang terletak di lembah-lembah yang subur dan di rute-rute utama perdagangan berubah menjadi desa-desa yang berbenteng. Jaman ini juga ditandai dengan mulainya organisasi sosial, pemerintahan dan dikenalnya tulisan.

 

Pada permulaan Jaman Perunggu kota-kota orang Kanaan diperbentengi secara besar-besaran karena adanya dua kerajaan adidaya, Mesir dari selatan dan Mesopotamia dari utara. Pada mulanya Firaun-firaun Mesir sering kali menyerang kota-kota orang Kanaan, merampas kekayaan mereka, dan kembali ke Mesir tetapi menjelang akhir Jaman Perunggu kekuasaan mereka hadir secara tetap dengan menunjuk penguasa-penguasa Mesir yang bertugas mengumpulkan pajak untuk diberikan kepada Firaun di Mesir.

 

Pada jaman inilah tampil para bapa bangsa Israel. Sekitar tahun 1800 SM Abraham meninggalkan kota Ur (terletak di wilayah Irak sekarang ini) menuju tanah Kanaan, di mana ia menetap di wilayah pegunungan “karena wilayah-wilayah lembah telah didiami oleh orang Kanaan”.

 

Karena terjadi bencana kelaparan yang hebat di wilayah ini suku-suku Israel mengungsi ke Mesir dan menetap di sana hingga Musa memimpin mereka keluar pada tahun 1250 SM.

 

 

Jaman Besi (1200-586 SM)

 

Pad jaman ini besi ditemukan dan banyak sekali dipergunakan. Sekitar tahun 1200 SM suku-suku Israel memasuki Tanah Suci yang telah didiami oleh orang Kanaan dan tak lama setelah itu orang Filistin atau “bangsa yang datang dari laut” tiba juga di dataran rendah dekat pantai di sebelah barat.

 

Peristiwa ini menandai suatu masa yang penuh pergolakan di Palestina. Suku-suku Israel mendiami wilayah-wilayah pegunungan sementara orang Kanaan mendiami lembah-lembah dan dataran rendah pantai didiami oleh orang Filistin. Orang Israel harus berhadapan dengan dua musuh kuat dan harus meninggalkan sistem kesukuan yang berdiri sendiri-sendiri dan menggantikannya dengan sistem kerajaan yang terpusat. Sekitar tahun 1020 SM Saul menjadi raja atas suku-suku Israel melalui pengurapan oleh Nabi Samuel. Saul tidak banyak mencapai kemajuan, dia terbunuh dalam peperangan melawan orang Filistin di Gunung Gilboa.

 

David menjadi raja kedua (1000-960) dan ia dianggap sebagai pendiri kerajaan, dengan mengalahkan orang Filistin, memperluas wilayah kekuasaan, dan yang terpenting adalah menaklukkan Yerusalem dan menjadikannya sebagai ibukota. Yerusalem terletak di lokasi netral di antara suku Yehuda dan suku Benyamin dan di sinilah pula ia menempatkan Tabut Perjanjian, simbol keagamaan yang diakui oleh semua suku Israel.

 

 

Jaman Pemerintahan Raja Salomo (960-930 SM)

 

Kerajaan Israel mencapai puncak kejayaannya – Salomo membangun Bait Allah dan membentengi kota-kota, membuat perdamaian dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, membawa ahli bangunan dan kayu aras dari Libanon dan melakukan perdagangan dengan ratu dari Sheba. Inilah masa kemakmuran besar dan kerajaan Israel berkembang pesat.

 

Setelah Raja Salomo wafat pada tahun 930 SM kerajaan Israel terbagi dua, Yeroboam menjadi raja atas wilayah Utara yang disebut Israel dengan Samaria sebagai ibukotanya, sedangkan Rehoboam putra Salomo menjadi raja atas wilayah Selatan yang disebut Yehuda dengan Yerusalem ibukotanya. Sepuluh suku lainnya bergabung dengan Kerajaan Israel di Utara sedangkan suku Yehuda dan Benyamin saja yang menjadi satu dalam Kerajaan Yehuda di Selatan. Setelah pemerintahan Yeroboam berakhir pemberontakan menjadi cara pergantian kekuasaan yang lazim terjadi di kerajaan Utara.

 

Di kedua kerajaan para nabi berbicara keras supaya dilakukan pemurnian iman dan mengutuk tindakan-tindakan ketidakadilan sosial yang sangat mencolok mata. Kerajaan Utara dihancurkan pada tahun 722 SM oleh orang Asyur. Kesepuluh suku Israel didepak keluar dan Samaria dikosongkan dari hampir semua penduduk Yahudinya dan digantikan dengan orang-orang asing oleh orang Asyur. Kerajaan Selatan masih bertahan lebih lama tetapi kemudian dihancurkan oleh orang Babel tahun 585 SM. Suku Yehuda dibuang menjadi tawanan ke Babel.

 

 

Jaman Bangsa Persia (586-332)

 

Bangsa Persia mengalahkan orang Babel tahun 538 SM dan segera seluruh Timur Tengah berada di bawah kekuasaan mereka, termasuk wilayah Palestina. Raja Koresy dari Persia mengeluarkan suatu keputusan bagi orang-orang Yahudi, dan mulailah gelombang pertama kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina dan pembangunan kembali Bait Allah kedua tahun 518 SM. Gelombang kedua para immigran dari Babel terjadi tahun 457 hingga 420 SM dan pada masa ini Ezra dan Nehemia memulai pembangunan tembok sekeliling kota Yerusalem.

 

 

Jaman Helenis (332-63 SM)

 

Aleksander Agung mengakhiri kekuasaan Kerajaan Persia tahun 333 SM. Setelah menaklukkan Palestina pada tahun 332 SM, kekaisarannya dibagi di antara dua jenderalnya, Ptolemy mendapatkan Mesir dan Palestina sedangkan Seleukid menguasai Siria dan Babel. Peperangan terus terjadi antara kedua dinasti ini dan pada tahun 200 SM Raja Antiokus Agung menaklukkan wilayah Palestina untuk kerajaan Seleukid.

 

Bangsa Yunani memaksakan kultur pemujaan berhala mereka kepada orang-orang Yahudi yang menimbulkan pemberontakan dipimpin oleh Makabe bersaudara pada tahun 167 SM. Pada mulanya pemberontakan ini merupakan perjuangan mencapai kebebasan beragama tetapi segera setelah itu berubah menjadi perlawanan untuk mendapatkan kemerdekaan politik.

 

Dinasti Hasmonea memperluas dominasi Yahudi ke seluruh wilayah Palestina dan hampir seluas wilayah kerajaan Daud dan Salomo.

 

Perselisihan antara putra-putra Ratu Shelimzion yaitu Hyrcanus dan Aristobolus antara tahun 69-63 melumpuhkan dinasti Hasmonea. Bangsa Romawi kemudian masuk dan Pompey menguasai sebagian besar wilayah Yudea.

 

 

Jaman Romawi (63 SM – 325M)

 

Hyrcanus menjadi “Presiden Bangsa” sedangkan Antipater, penasehat Hyrcanus dan yang selalu memihak Bangsa Romawi, menjadi “tutornya dan memegang kekuasaan yang sebenarnya. Antipater memuluskan jalan bagi putranya Herodes Agung untuk menjadi raja (37SM – 4M).

 

Herodes disebut Agung karena ia seorang pembangun yang hebat. Ia membangun kembali Bait Allah kedua, juga kota-kota di seluruh wilayah kerajaan, dan istana-istana. Masa kekuasaannya adalah masa kemakmuran. Ia juga tahu bagaimana menyenangkan bangsa Yahudi di satu sisi dan para pelindungnya, penguasa Romawi, di sisi lain.

 

Setelah kematiannya kerajaan Herodes dibagi di antara putra-putranya. Arkelaus mendapatkan Yudea, Samaria, dan Idumea. Antipas menguasai Galilea dan Philipus mengambil pegunungan Golan. Arkelaus tidak secakap ayahnya dan diturunkan dari tahtanya pada tahun 6 M. Orang Romawi kemudian memilih untuk mengangkat seorang prokurator yang memerintah Yudea dari kota Kaisarea.

 

Antara tahun 41-44 M Herodes Agrippa, cicit-keponakan Herodes Agung menjadi raja Palestina. Ia memperluas kota Yerusalem dengan membangun tembok ketiga.

 

Setelah kematian Agrippa para prokurator Romawi diangkat hingga tahun 53 M ketika Herodes Agrippa Kedua menjadi raja atas Galilea dan Pegunungan Golan. Akan tetapi procurator Romawi terus memerintah atas Yudea.

 

Tahun 66 M Pemberontakan Besar dimulai sebagai balasan atas tindakan-tindakan Titus dan Vespasianus yang telah memporak-porandakan wilayah ini. Mula-mula pemberontakan di Galilea berhasil ditekan, kemudian tahun 70 M Yerusalem ditundukkan dan Bait Allah dihancurkan. Pemberontakan itu berakhir tahun 73 M dengan jatuhnya Massada sebagai benteng pertahanan terakhir.

 

Yerusalem tetap menjadi pusat bagi orang Yahudi tetapi karena Bait Allah telah dihancurkan ibadat persembahan korban tidak dapat dilakukan lagi dan berakhir pula kepemimpinan para imam yang sudah ada sejak dulu. Orang Yahudi kemudian melihat bahwa komunitas mereka yang tercerai-berai hanya dapat dipersatukan dengan ketaatan pada hukum bersama.

 

Kaisar Romawi Hadrian ingin menjadikan Yerusalem sebuah kota berhala. Hal ini mengakibatkan munclnya pemberontakan kedua atau yang disebut dengan pemberontakan Bar Kokhba (133-135 M) sesuai dengan nama pemimpinnya yang sebagian orang menganggapnya sebagai Mesias. Pemberontakan ini berakhir dengan jatuhnya kota Bethar. Yerusalem dihancurkan dan Kaisar Hadrian membangun sebuah kota berhala di atas reruntuhan Yerusalem dan menamainya Kota Aelia Capitolina. Orang-orang Yahudi dilarang masuk Yerusalem dan gelombang penduduk Yahudi pindah ke wilayah Galilea dan pegunungan Golan di Utara menyebabkan didirikannya desa-desa baru dan sinagoga-sinagoga.

 

Mahkamah Agama Sanhedrin Yahudi juga dipindahkan ke Galilea (140 M ke Usha dan Betshearim, tahun 165 M ke Zippori, dan 230-429 M ke Tiberias).

 

 

Jaman Byzantin

 

Kaisar Konstantin (274-337 M) mengganti ibukotanya Roma dengan kota Yunani Byzantin yang diberi nama baru Konstantinopel untuk menghormati dirinya (300 M). Dipengaruhi oleh ibundanya Ratu Helena ia menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi di seluruh Kekaisaran Romawi (313 M). Helena sendiri berziarah ke Palestina dan menyuruh didirikan gereja-gereja di sebagain besar tempat yang dianggap suci oleh umat Kristen: tempat kelahiran, wafat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke surga. Pembangunan gereja_gereja ini menambah daya tarik atas tempat-tempat suci.

 

Hal ini juga menandai masa kemajuan di wilayah ini, yang menjadi pusat kerohanian bagi seluruh Kekaisaran Byzantin. Para peziarah berdatangan dari seluruh dunia untuk mengunjungi Tanah Suci, gereja-gereja didirikan di tempat-tempat suci dan biara-biara dibangun bahkan di daerah gurun.

 

Pergantian dari Jaman Romawi ke Byzantin tidak pula berarti perubahan budaya karena bangsa Romawi masih memegang kekuasaan. Tetapi dengan agama yang baru, walaupun kota-kota masih tetap dibangun dengan gaya Romawi yang sama, kuil-kuil dan ampiteater-ampiteater ditinggalkan.

 

Tahun 614 M Bangsa Persia menyerang wilayah ini dan menghancurkan semua gereja kecuali Gereja Kelahiran Yesus. Mereka merebut salib Yesus dan membawanya ke Persia, tetapi tahun 629 M Kaisar Byzantin Heraclius mengalahkan orang Persia dan membawa kembali Salib Suci ke Kalvari.

 

Peperangan yang terus berlangsung melawan bangsa Persia dan pertikaian-pertikaian internal melemahkan Kekaisaran Byzantin dan mereka kehilangan sebagian besar wilayah Kekaisarannya dari sebuah agama baru yang muncul di Gurun Arabia, yaitu Islam.

 

 

Jaman Arab: Jaman Keempat Penerus Nabi Muhammad

 

Nabi Muhammad dilahirkan pada Tahun 570 M di Mekkah yang terletak di Saudi Arabia sekarang ini. Pada usia 40 tahun ia mulai menyebarkan agama Islam di Gurun Arabia. Sebelum Ia meninggal pada tahun 632 M Ia berhasil menyatukan sebagian besar suku-suku Arab di bawah agama yang baru yakni Islam.

 

Setelah wafatnya Nabi Muhammad umat Muslim memilih seorang penerus Nabi yang bernama Abu Bakar (632-634 M). Selama masa kepemimpinannya yang tidak lama itu beberapa dari suku-suku tersebut meninggalkan Islam. Akan tetapi hasil usahanya yang paling besar adalah membawa kembali orang-orang yang meninggalkan Islam dengan kekuatan.

 

Adalah penerus Nabi yang kedua yang bernama Omar bin Alkhatab (634-644 M) yang memperluas Islam ke luar Semenanjung Arabia dengan mengalahkan orang Persia dan merebut wilayah Palestina tahun 634 M melalui pertempuran di Yarmuk. Dua tahun kemudian pasukannya mengepung kota Yerusalem sehingga Sophorne, saat itu menjadi Batrik Yerusalem, menyerahkan kunci kota kepada Omar untuk menghindarkan terjadinya pertumpahan darah. Omar tidak memaksakan Islam kepada penduduk beragama Islam dan Yahudi karena ia menganggap mereka sebagai “Orang-orang Alkitab” dan mengeluarkan sebuah keputusan yang menghormati tempat-tempat suci orang Kristen dan Yahudi. Hampir semua raja Arab Islam mengikuti keputusan Omar tersebut.

 

Setelah Omar wafat Othman terpilih sebagai penerus yang ketiga. Pada masa kepemimpinannya Qur’an, kitab Suci umat Islam, berhasil disusun. Othman dibunuh dan Ali, saudara sepupu Nabi, terpilih tetapi masa kepemimpinannya yang sebentar ditandai dengan pemberontakan dan peperangan.

 

 

Dinasti Umayyad:

Setelah terbunuhnya penerus keempat Ali, penguasa kota Damaskus merebut kekuasaan dan mendirikan sebuah dinasti raja-raja yang disebut Dinasti Umayyad.

 

Raja-raja Arab Muslim dari dinasti ini menghormati tempat-tempat suci umat Kristen dan Yahudi, dengan kekecualian Bukit Bait Allah yang tinggal reruntuhan. Umat Islam percaya bahwa dari sinilah Nabi Muhammad melakukan perjalanan naik ke surga. Dua mesjid dibangun pada lokasi yang sama, Kubah Batu pada taun 688 M oleh raja Abed Almalik bin Marwan dan pada tahun 712 M mesjid Alaqsa didirikan oleh putranya Walid bin Abed Almalik bin Marwan. Dinasti Umayyad memperluas wilayah Kerajaan Islam hingga sampai ke Spanyol yang mereka kuasai hingga abad ke-15.

 

 

Dinasti Abbasid:

Keturunan Abass, paman Nabi Muhammad, selalu menentang dinasti Umayyad hingga mereka berhasil mengambil alih kekuasaan. Persahabatan antara Raja Perancis Charlemagne dan Raja Harun Al Rasjid memperbaiki keadaan umat Kristen di Tanah Suci. Jaman ini merupakan masa perbaikan tempat-tempat suci dan banyak peziarah datang selama dua abad kemudian.

 

 

Dinasti Fatimid (969-1091 M)

Penguasa Mesir memperoleh kemerdekaannya dan muncullah sebuah dinasti raja-raja yang disebut dinasti Fatimid, yang merupakan keturunan Fatima, putrid Nabi Muhammad. Mereka menguasai Tanah Suci selama abad kesebelas. Abad ini tercatat sebagai abad penuh dengan kerusuhan, gempa bumi dan datangnya bangsa-bangsa penyerbu baru seperti bangsa Mongolia. Hal ini menimbulkan kebencian terhadap kaum minoritas yang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Raja Alhakim Bamer Allah, yang menghancurkan Gereja Makam Yesus pada tahun 1009.

 

 

Jaman Pejuang Salib (1099-1291)

 

Para Pejuang Salib (the Crusader)merupakan sebuah koalisi lima negara Eropa yang memberikan tanggapan atas panggilan Paus Roma untuk melepaskan Tanah Suci dari tangan penguasa Islam. Pada tahun 1099 pasukan Pejuang Salib menaklukkan kota Yerusalem setelah membunuh penduduk setempat, yang adalah orang Islam, orang Kristen Gereja Timur, dan Yahudi.

 

Pemimpin Pejuang Salib Gurdfird, menolak untuk dinobatkan sebagai raja di tempat Yesus mengenakan mahkota duri. Ia memerintah hanya selama setahun. Setelah kematiannya saudaranya Baldwin I (1100-1118) menjadi raja pertama dan pendiri kerajaan Pejuang Salib. Ia dimahkotai di gereja di Bethlehem.

 

Kerajaan Pejuang Salib tetap kuat hampir sampai tahun 1153, setelah itu mulai mengalami kemunduran. Posisi raja menjadi lemah karena pertikaian di antara berbagai macam faksi dan pada 4 juli 1187 Saladin, seorang pemimpin Arab lokal, mengalahkan Pejuang Salib di bukit Horns of Hattin, yang mengakhiri Kerajaan Pejuang Salib Pertama.

Empat tahun kemudian Pejuang Salib memulai perjuangan baru dipimpin oleh Richard the Lionheart, Raja Inggris. Ia mengalahkan pasukan Saladin di banyak tempat tetapi tidak berhasil merebut Yerusalem kembali. Richard the Lionheart mendirikan Kerajaan Pejuang Salib Kedua yang mempunyai ibukotanya di Akko di sebelah utara. Kerajaan Kedua berlangsung hingga tahun 1291 ketika kerajaan ini dihancurkan oleh orang Mamluk.

 

 

Jaman Mamluk (1291-1517)

 

Orang Mamluk menguasai Timur Tengah dari Mesir. Periode ini berlangsung cukup lama dan selama masa ini orang Mamluk mendirikan banyak sekolah kerohanian Islam, mesjid dan benteng, banyak dari antaranya masih bisa dilihat di Yerusalem dan Gaza. Selama periode ini, pada tahun 1335, Ordo Katolik Fransiskan kembali ke Yeruisalem dan membeli banyak tempat suci dari orang Mamluk dalam upaya memperbaharui peziarahan umat Kristen ke Tanah Suci. Ordo inilah yang pertama kembali lagi setelah kekalahan para Pejuang Salib sehingga dapat dimegerti mengapa kenyataannya mereka mempunyai banyak tempat bersejarah dan tempat suci dewasa ini.

 

 

Jaman Turki (1517-1917)

 

Kesultanan Turki Ottoman merebut Konstantinopel tahun 1453, menandai berakhirnya Kekaisaran Byzantin tua. Pada tahun 1517 mereka mengalahkan orang Mamluk dari Mesir dan merebut Yerusalem.

Sultan Selim I memperluas Kesultanan Turki dan Sulaiman Agung yang mengukuhkannya dan membentuk pemerintahan dan perundang-undangan. Sepeninggal Sulaiman Kesultanan Turki melemah dan pada akhir abad ke-19 kesultanan ini disebut sebagai “ seorang pria sakit”. Hal ini terutama disebabkan oleh:

 

  1. Sultan-sultan yang tidak cakap setelah Sulaiman.
  2. Pembagian tanah di antara para pasha yang hanya berpikiran untuk memenuhi kuota pajak mereka dan menngambil sedikit kelebihan untuk mereka sendiri.
  3. Semakin menguatnya Eropa dalam bidang industri.
  4. Tertutupnya pintu-pintu Turki menuju modernisasi.

 

Para penguasa setempat memberontak dan dalam jangka waktu tertentu berhasil mencapai kemerdekaan. Para pemimpin yang terkemuka adalah:

 

Fakher Eldin (1590-1635) pemimpin orang Druze dari Lebanon dan bagian utara Palestina. Masa kepemimpinannya merupakan masa pembangunan, pendidikan, kebebasan dan toleransi atas kelompok minoritas. Ia memberi hak kepada Ordo Fransiskan untuk membangun gereja di Nazaret di tempat terjadinya peristiwa Maria menerima kabar gembira dari malaikat.

Zahel El Omar (1740), dia adalah pemimpin Beduin di wilayah Galilea yang membangun tembok-tembok kota Haiffa, Akko dan Tiberias dan juga dikenal dengan toleransinya terhadap kaum minoritas di Nazaret. Ia memberi ijin kepada gereja Ortodoks Yunani untuk membangun gereja di tempat terdapat sumur Maria.

 

Menjelang akhir abad ke-18 mulai terjadi perlombaan untuk mewarisi Kesultanan Turki.

 

1. Kampanye perang oleh Napoleon melawan Timur. Setelah merebut Mesir dan armada lautnya dihancurkan oleh Inggris, Napoleon meninggalkan Mesir dan menuju utara merebut kota Jaffa di Palestina dan kemudian kota Haiffa. Dari sana ia mengepung kota Akko, yang gagal ditaklukkannya dan kemudian mundur ke Jaffa. Dari Jaffa ia kemudian kembali ke Perancis.

 

2. Mohammad Ali, pemimpin Mesir, memberontak terhadap Turki. Putranya bernama Ibrahim Pasha pergi membawa pasukan besar ke arah utara, merebut Palestina dalam perjalanan itu dan mengancam Konstantinopel. Inggris dan Prancis mengkawatirkan kepentingan mereka di Timur Tengah dan menghentikan gerak majunya dengan memaksa dia mundur ke Mesir dan menjamin untuknya sebuah dinasti raja-raja di Mesir.

 

3. Kepentingan asing di tempat-tempat suci: Orang Perancis yang adalah pelindung umat Katolik, Rusia pelindung umat Ortodoks, dan Inggris pelindung umat Protestan dan Yahudi. Terjadi suatu perlombaan untuk menguasai tempat-tempat suci dan pada masa ini banyak gereja dibangun dan diperbaiki lagi, banyak missioner dikirim dan rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah dan biara-biara didirikan. Perlombaan dan konflik ini mencapai puncaknya dalam Perang Krim. Perancis dan Inggris bersatu melawan Turki dan Russia. Api perang ini disulut oleh hilangnya Bintang Kelahiran dari tempat kelahiran Yesus di Betlehem.

 

4. Gerakan Zionis. Penyiksaan atas orang Yahudi di Eropa Timur dan bangkitnya nasionalisme membuat orang Yahudi di Eropa memimpikan sebuah negara bangsa mereka sendiri. Pada tahun 1897 Theodore Herzl, seorang jurnalis Yahudi, mengadakan kongres Zionis pertama dan mendirikan sebuah organisasi Zionis dunia.

Pada awalnya gerakan Zionis telah siap dengan beberapa pilihan tempat didirikannya sebuah negara Yahudi, di antaranya Argentina, Uganda, Siprus, dan El-Arish (Sinai Utara). Tetapi Palestina menjadi pilihan yang lebih disukai karena Palestina mencakup semua harapan, warisan dan sejarah mereka. Pilihan ini mendapat dukungan dari para negarawan Inggris yang melihat hal ini sebagai alat untuk memutuskan Palestina dari kekuasaan Turki dan membawanya ke bawah pengaruh Inggris. Sebagian umat Kristen melihat kembalinya orang Yahudi ke Palestina sebagai pertanda kedatangan Kristus yang kedua kalinya dan mereka juga memberikan dukungan.

Gerakan Zionis berusaha mencapai dua tujuan pada waktu yang sama. Yang pertama adalah mendorong immigrasi orang Yahudi ke Palestina untuk membeli tanah dan membangun tempat tinggal di Palestina. Yang kedua adalah berupaya mencapai sebuah keputusan resmi untuk pemukiman massal di Palestina. Tujuan ini akhirnya tercapai pada tanggal 2 November 1917, melalui Deklarasi Balfour yang dikeluarkan oleh Sekretaris Urusan Luar Negeri Inggris.

 

 

Mandat Inggris (1918-1947)

 

Setelah Perang Dunia Pertama dan kekalahan Turki, Palestina diserahkan kepada Mandat Inggris. Penentangan dunia Arab atas janji Balfour dan atas immigrasi orang Yahudi ke Palestina dinyatakan baik dalam tindakan politik maupun perlawanan bersenjata. Serangan-serangan, demonstrasi, dan kekerasan terjadi, yang paling nyata adalah pemberontakan tahun 1920, 1921, 1029, 1933, 1936, dan 1937-39. Pada bulan Juli 1937 sebuah komisi kerajaan Inggris dikirim untuk menyelidiki permasalahan dan mereka menemukan bahwa penyebab utamanya adalah keinginan orang Arab Palestina akan kemerdekaan nasionalnya dan kekhawatiran mereka akan berdirinya sebuah negara Yahudi di Palestina.

 

Antara tahun 1930-an dan 1940-an angkatan bersenjata Yahudi di Palestina, banyak dari antaranya pernah dilatih oleh Inggris dan ikut dalam Perang Dunia II, menjadi kuat dan efektif. Demikian pula halnya orang Arab Palestina menolak bertambahnya immigrasi orang Yahudi dari Eropa ke Palestina.

 

Kerusuhan ini menyebabkan Inggris membentuk lebih dari 18 komisi berbeda untuk menyelidiki masalah Palestina dan mengajukan rekomendasi. Tak satupun dari rekomendasi ini dapat diterima oleh semua faksi.

 

Pada akhir tahun 1940-an situasi di Palestina telah menjadi tidak terkontrol. Hal ini membuat Inggris mengeluarkan maklumat pada 14 Februari 1947 bahwa pemerintahan Inggris telah memutuskan untuk mengajukan permasalahan Palestina kepada Perserikatan Bangsa-bangsa.

 

Kemudian Perserikatan Bangsa-bangsa membentuk sebuah komisi khusus tentang Palestina (UNSCOP) yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil sebelas negara anggota dan komisi ini menerbitkan sebuah laporan dan merekomendasikan agar dilakukan pembagian atas wilayah Palestina. Orang Yahudi menerima rencana pembagian tersebut tetapi orang Arab menolaknya.

 

Orang Yahudi mulai menduduki kota demi kota dan menduduki wilayah yang lebih luas daripada yang telah diusulkan dalam rencana pembagian itu. Pada tanggal 14 Mei 1948 orang Yahudi memproklamirkan berdirinya negara Israel.